103 Tenaga Pendidik Ponpes Madinatul Qur’an Depok jalani Rapid Test.

103 Tenaga Pendidik Ponpes Madinatul Qur’an Depok jalani Rapid Test.

Depok, 16 Juli 2020, Dinas Kesehatan Kota Depok melaksanakan kegiatan Rapid Test di Pondok Pesantren Madinatul Quran, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, Kamis (16/07/2020). Sebanyak 103 tenaga pendidik mengikuti kegiatan tersebut.
berita.depok.go.id – Sebanyak 103 tenaga pendidik dan pelajar Pondok Pesantren (Ponpes) Madinatul Quran di Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, hari ini mengikuti rapid test Covid-19. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Kepala UPTD Puskesmas Kalimulya, Toni Hermawan mengatakan, sebelum kembali beraktivitas, seluruh warga Ponpes wajib mengikuti rapid test. Semua itu untuk memastikan kesehatan dan kondisi pendidik bebas dari Covid-19.
“Untuk mengetahui pelajar, guru, dan karyawan semua sehat dan bebas virus Corona, maka perlu ada rapid test. Tindakan ini tepat sebelum mulai KBM,” katanya kepada www.madinatulqurandepok.com Kamis (16/07/2020).
Toni menyebut, pemeriksaan ini melibatkan petugas kesehatan UPTD Puskesmas Kalimulya dan Dinas Kesehatan Kota Depok. Dengan total petugas yang diturunkan sebanyak 12 orang.
“Hasilnya mudah-mudahan non-reaktif dan mereka bisa mulai KBMsesuai rencana,” tandasnya. (JD 05/ED 01/EUD02)Dan setelah menunggu untuk beberapa jam, akhirnya Kepala UPTD Puskemas Kalimulya mengumumkan bahwasannya semua Karyawan dinyatakan Non Reaktif atau terbebas dari Covid-19

PEMBELAJARAN DAN HALAQAH TAHFIZH JARAK JAUH PESANTREN MADINATUL QUR’AN DEPOK

PEMBELAJARAN DAN HALAQAH TAHFIZH JARAK JAUH PESANTREN MADINATUL QUR’AN DEPOK


Depok, 18 Maret 2020
Pesantren Madinatul Qur’an Depok mengadakan pembelajaran dan setoran tahfizh jarak jauh dalam upaya mencegah penyebaran virus corona/COVID-19 yang kini masih ramai dan berstatus Pandemi Global.

Setoran Tahfizh Jarak Jauh

Mengingat akan berita yang lagi beredar dan intruksi Walikota Depok dan Gubernur DKI untuk sementara menjaga kesehatan dan interaksi antar individual demi mengantisipasi tertularnya masyarakat Pesantren MAdinatul Qur’an Depok oleh Pandemi Global ini. Pihak Pesantren memberikan waktu cuti kepada santri-santri SMP-SMA TQT Madinatul Qur’an Depok.


Namun,pandemic ini tidak mematahkan semangat para pendidik dan santri untuk selalu melakukan pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi berhasil membakar semangat para pendidik dan santri Madinatul Qur’an Depok untuk selalu mengadakan pembelajaran walaupun dengan jarak jauh melalui Handphone mereka, dimulai dari agenda pagi yang telah disiapkan oleh Panitia pembelajaran Jarak Jauh, hingga setoran tahfizh pagi dan sore, hingga pekerjaan rumah yang insyaallah akan terus terkontrol dengan baik.

Yang kemungkinan pembelajaran jarak jauh akan terus kita jalankan sampai berita pandemi virus mereda.

Penyuluhan dan Pencegahan Virus Corona (2019-Ncov) kepada santri-santri Madinatul Qur’an Depok

Penyuluhan dan Pencegahan Virus Corona (2019-Ncov)  kepada santri-santri Madinatul Qur’an Depok

Depok, 4 Maret 2020.

Penyuluhan dan Pencegahan Virus Corona (2019-Ncov) oleh Dr. Dipo Pramudito kepada santri-santri dan Masyarakat Pesantren Madinatul Qur’an Depok yang diselenggarakan oleh Tim Kesehatan Pesantren.

Tagar #stoppaniklawancorona menjadi trending di twitter. Salah satunya adalah untuk menambah rasa optimisme masyarakat untuk selalu tenang dan tidak perlu panik dalam menghadapi isu tersebarnya corona di Indonesia khususnya di Kota Depok.

Paparan Dr Dipo Pramudito

Sebagai Pesantren yang terletak di Kota Depok, Madintaul Qur’an Depok mengadakan agenda Penyuluhan dan Pencegahan Virus Corona (2019-Ncov) kepada santri-santri dan Masyarakat penghni pesantren. Dengan harapan dan tujuan yang sama yaitu mengenal tentang (2019-Ncov) dan bagaimana pencegahannya.

“Sebagai seorang mu’min marilah kita selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, sejalan dengan Allah firmankan dalam hadist Qudsi, “Saya berprasangka sabagaimana prasangka Hambaku,”. Ujar Ustadz Sholihin Hadziq (Ketua Yayasan Madinatul Qur’an)

Sambutan Ketua Yayasan Madinatul Qur’an Depok

Dengan mengangkat optimisme dan fikiran positive, panitia mengambil kutipan hadist Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam :

 ”Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau menjumpai pertolongan Allah ada di hadapanmu” ([HR. At-Tirmidzi).

Sebagai pengingat sekaligus dzikir para peserta untuk selalu berikhtiyar dan bergantung diri kepada Allah Azza Wa Jalla.

ANTUSIASME PENYELENGGARAAN KURBAN DI MADINATUL QURAN

ANTUSIASME PENYELENGGARAAN KURBAN DI MADINATUL QURAN

DEPOK, eMQiNews — Melalui eMQi Peduli, Pesantren Madinatul Qur’an kembali mengadakan pemotongan hewan kurban, Senin 12 Agustus 2019, atau 11 Dzulhijjah 1440 H. Spontan, kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat sekitar, tidak terkecuali para santri dan warga pesantren, yang biasanya mereka memanfaatkan daging kurban untuk kegiatan “nyate bersama” pada malam harinya.

“Kegiatan kurban ini merupakan media silaturahim dan bentuk kepeduliaan pesantren pada masyarakat sekitar. Insyaallah akan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya,” tutur Ustadz Solihin Hadziq, ketua Yayasan Madinatul Quran saat ditemui eMQiNews di sela-sela pelaksanaan kegiatan kurban. “Masyarakat sangat antusias dengan kegiatan ini, mereka sangat berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun,” lanjutnya.

Proses Penyembelihan Hewan
Suasana Pencacahan Tulang

Pada kesempatan yang sama, ketua panitia, Ust. Faris Khairuddin, menjelaskan adanya peningkatan jumlah hewan kurban pada tahun ini. “Alhamdulillah, tahun ini panitia dapat amanah dari mudhahhi (pengurban) sebanyak 8 ekor sapi dan 24 kambing, sehingga bertambah pula jumlah paket daging yang akan disalurkan, ” Katanya.

Di akhir wawancaranya dengan eMQiNews, Ust. Faris tidak lupa menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi pada Mudhahhi (pengurban) yang telah memberikan kepercayaan pada Pesantren yang berdekatan dengan Alun-alun Kota Depok tepatnya di Jalan Al-Hidayah No.20, Kampung Sawah, Jatimulya, Kota Depok, Jawa Barat ini untuk menyalurkan kurban mereka.

Semoga Allah SWT Membalas keikhlasan mereka yang ikut berpartisipasi dalam kurban tahun ini dengan kebaikan yang setimpal.(Salam Tim Redaksi eMQinews).

SHALAT IDUL ADHA 1440H

SHALAT IDUL ADHA 1440H

DEPOK, EMQI.NEWS- Pesantren Madinatul Qur’an Depok untuk pertama kalinya menyelenggarakan shalat Idul Adha di Masjid Madinatul Qur’an, Ahad (11/8). Penyelenggaraan shalat sunah ini disambut dengan antusias oleh santri dan masyarakat sekitar Pesantren.

“Semoga dengan Idul Adha kali ini kita bisa meneladani kesabaran Nabi Ibrahim A.S., pengorbanan, dan keikhlasannya dalam memberikan segala sesuatu yang kita cintai untuk Allah SWT., ” tutur Ust. Aceng Hayatul Mubarok, khatib shalat Idul Adha kali ini.

Foto Suasana Khutbah Idul Adha 1440h


Seluruh umat Islam sedunia merayakan Hari Raya Idul Adha, atau disebut juga Hari Raya Kurban, sebab umat Islam melakukan kurban dengan menyembelih kambing/domba, sapi, atau unta, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S., atas perintah Allah SWT.


Idul Adha 1440H ini merupakan momentum terbaik bagi santri, sebab untuk pertama kalinya mereka merasakan Idul Adha di Pesantren bersama teman-teman dan para musyrif Madinatul Qur’an. Kedepannya, insyaallah, program ini akan dilaksanakan secara rutin oleh pihak Pesantren.

Mbah Maimun Zubair Meninggal

Mbah Maimun Zubair Meninggal

MQ-News

Innalillahi Wa innalillahi Roji’un

Keluarga Besar Pesantren Madinatul Qur’an Depok Turut Berduka Cita

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Maimun Zubair alias Mbah Moen dikabarkan wafat saat menunaikan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, Selasa (6/8).
“Info sementara yang saya terima dari Gus Rozin benar,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini, lewat pesan singkat, Selasa (6/8).
Lihat juga: Mbah Moen dan Dakwah Damai Kiai NU

Soal kejadiannya, Helmy menyebut itu belum lama. “Baru saja,” ucap dia.
Meski begitu, ia belum memberi penjelasan soal penyebab kematian Mbah Moen, yang juga tokoh senior PPP itu.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi mengonfirmasi bahwa Mbah Moen wafat di Makkah.
“Iya mas, baru saja santri yang mendampingi beliau telepon saya,” ungkapnya.

Mbah Moen, yang merupakan kelahiran Rembang 90 tahun lalu, diketahui merupakan Ketua Majelis Syariah PPP.

Riwayat Hidup dan Keluarga

Beliau adalah kyai sepuh karismatik yang sering menjadi tumpuan permasalahan besar kebangsaan dan dunia internasional. Rakyat, santri, semua lapisan masyarakat, dan tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintahan merasa dekat kepada beliau dan selalu memperoleh solusi terbaik. Sesi-sesi penting seperti pemilihan presiden Indonesia tahun 2019 ini menjadi bukti bahwa ulama menjadi tumpuan permasalahan kebangsaan. Para ulama sepuh mendaulat beliau sebagai waliyullah akhir zaman yang menjadi patok penerang batin seluruh umat.

KELAHIRAN BELIAU

Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Dua ulama yang kesohor pada saat itu. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian. Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi kepala pasar Sarang selama 10 tahun. Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras.

Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu.

Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

WAFAT BELIAU
Beliau wafat pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 pagi di Mekkah dalam rangka merayakan ibadah haji.

Pendidikan
Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa.

Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Silsilah Keilmuan
Pendidikan Awal di Lirboyo
Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi. Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

Menuntut Ilmu di Mekah
Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib. Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain:
– Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
– Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath
– Sayyid Amin Al-Quthbi
– Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani
– Syekh Abdul Qodir Almandily

Menuntut Ilmu di Ulama Besar Jawa
Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama’ besar tanah Jawa saat itu.

Penerus Beliau
Putra putra beliau antara lain:
1. KH Abdullah Ubab
2. KH Gus Najih
3. KH Majid Kamil
4. Gus Abd. Ghofur
5. Gus Abd. Rouf
6. Gus M. Wafi
7 . Gus Yasin
8. Gus Idror
dan dua putri, yaitu:
1. Sobihah (mustofa aqil)
2. Rodhiyah (Gus Anam)

Jasa dan Karya Beliau
Pesantren Al Anwar, Sarang
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau.

Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau. Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan pengasuhannya kepada putranya KH. Ubab Maimun PP Al-Anwar yang berada di kampung Karangmangu Sarang Rembang Jawa Tengah didirikan oleh KH. Maimun Zubair pada tahun 1967.

Pondok ini pada mulanya adalah sebuah kelompok pengajian yang dirintis oleh KH. Ahmad Syuaib dan KH. Zubair Dahlan. Kelompok pengajian tersebut pada awalnya dilaksanakan di mushalla. Pada perkembangan selanjutnya kedua perintis tersebut mendirikan tiga komplek bangunan, yaitu komplek A, B dan C. Komplek B dikembangkan oleh KH. Abdul Rochim Ahmad menjadi PP Ma’hadul Ulumis Syar’iyah.

Sedang komplek A dikembangkan menjadi PP Al-Anwar oleh KH. Maimun Zubair, putra KH. Zubair Dahlan. Latar belakang pendirian pondok di samping untuk melanjutkan kegiatan pengajian, juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar yang umumnya berpenghasilan rendah sebagai nelayan. Perkembangan jumlah santri PP. Al-Anwar yang cukup pesat, menuntut adanya pembangunan di bidang fisik.

Pada tahun 1971 musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan diatasnya yang kemudian disebut dengan Khos Darussalam, juga dibangun sebuah kantor yang berada sebelah Selatan ndalem syaikhina. Seiring dengan bertambahnya santri maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973 dibangun Khos Darunna’im, tahun 1975 Khos Nurul Huda, tahun 1980 Khos AF, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang yang lain. terakhir dibangunnya gedung serbaguna PP. Al-Anwar berlantai lima pada tahun 2004 dan juga pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al-Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy al Maliki Makkah al Mukarromah.

Tokoh Nasional Tradisional
Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun. Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun.

Tapi rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh negara sehingga beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode. Dalam dunia politik beliau tergolong kiyai yang adem-ayem. Di saat NU sedang ramai mendirkan PKB (1998) mbah Moen lebih memilih diam dan istiqomah di PPP, partai dengan gambar Ka’bah. Pada tahun 1977, KH. Maimun Zubair mengembangkan pesantren dengan mendirikan PP putri Al-Anwar. berawal dari sebidang tanah yang dimiliki dan hasil pembelian tanah milik tetangga, beliau termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan sholat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al Qur’an. Sebagai langkah awal, lalu dibangunlah sebuah musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambu.

Kisah Teladan Beliau
Antara Beliau dan Gus Dur
“Aku ini tidak pernah setuju dengan Gus Dur”, kata Kyai Maimun Zubair. “Yah… namanya manusia. Tapi aku tidak berani membenci, apalagi memusuhinya. Takut kuwalat!” Kenyataannya, tidak seratus persen Mbah Maimun berseberangan dengan Gus Dur. Ketika suatu kali seorang tokoh intelektual datang jauh-jauh dari Jakarta untuk mengajak beliau masuk ICMI, Mbah Maimun menolak. “Pak Kiyai ini intelektual yang mumpuni lho”, kata si tokoh, “cocok sekali kalau masuk ICMI!.” “Ah, saya cukup Nahdlatul Ulama saja, gabung rombongannya pewaris nabi.” kata mbah Mun “Memangnya di ICMI nggak bisa?” “Kan nggak ada hadits Al-ICMI warotsatul anbiyaa’? Kalau Al-Ulamaa’ ada!”kata mbah Mun.

Sumber: Dari Berbagai Sumber
Diedit ulang pada 6 Agustus 2019

Untuk memperoleh profil dan biografi ulama terlengkap. Silakan membuka http://wiki.laduni.id/Daftar_Ulama

PEMBUKAAN USBU’ TA’ARUF DAN TAHUN AJARAN BARU SMP-SMA TQT MADINATUL QUR’AN DEPOK

PEMBUKAAN USBU’ TA’ARUF DAN TAHUN AJARAN BARU SMP-SMA TQT MADINATUL QUR’AN DEPOK

DEPOK MQ-NEWS. 

Pagi begitu cerah. Dari  pukul 06.00 WIB santri Madinatul Qur’an Depok sudah mempersiapkan diri dengan memakai seragam sekolah.

Senin, tanggal 07 Juli 2019 adalah hari awal masuk sekolah tahun ajaran baru 2019-2020.

Bagi santri baru, momen ini adalah pengalaman baru di lingkungan yang baru.

Karena itu, sekolah mengadakan kegiatan Usbu’ Taaruf wa At-taujih, yaitu pekan orientasi dan pengenalan terhadap pesantren, guru-guru, beserta program di dalamnya.

“Kita awali tahun ajaran baru dengan semangat baru.” Tutur Direktur Pendidikan Ustadz. Ghufron Hasan M.I.Kom. pada acara pembukaan Usbu’ Ta’aruf wa At-Taujih. “Kita awali dengan semangat Motto kita ‘Bersih, Tertib, dan Berbudaya’ sebagai semboyan yang kita pegang dalam keseharian pesantren”, tutur beliau lebih lanjut.

Di akhir acara dilakukan pelepasan balon-balon yang menerbangkan kertas-kertas berisi harapan dan cita-cita yang ditulis oleh para santri. Diharapkan mereka menggantungkan cita-cita setinggi langit. (GH) 

Prestasi Santri Madinatul Qur’an November 2018

Prestasi Santri Madinatul Qur’an November 2018

Depok, MQ-News. Di tengah padatnya waktu belajar dan menyetorkan hafalan Qur’an, para santri Madinatul Qur’an juga mencetak segudang prestasi di bidang lain. Kali ini pada beberapa lomba yang diikuti pada bulan Oktober 2018 lalu. Prestasi tersebut antara lain :
1. Juara 2 MHQ SMAN 1 DEPOK tingkat JABODETABEK
2. Juara 3 Speech English SMAN1 Depok tingkat JABODETABEK
3. Juara 3 DA’I MUDA Hidayatullah tingkat JABODETABEK
4. Juara 2 Futsal ANZ CUP tingkat JABODETABEK
5. Juara 2 MHQ AL Haraki tingkat JABODETABEK
6. Juara 1 Panahan 15 M JT Archery 29
7. Juara 2 Panahan 15 M JT Archery 29

Selamat dan sukses santri Madinatul Qur’an.!!

QUR’ANIC Generation

KUNJUNGAN SILATURAHIM KE DARUL MUTTAQIEN PARUNG

KUNJUNGAN SILATURAHIM KE DARUL MUTTAQIEN PARUNG

Depok, MQ-news. Tim kependidikan MQ melakukan kunjungan silaturahim dan studi banding ke pesantren Darul Muttaqien Parung pada Selasa 09 Oktober 2018. Studi banding ini merupakan agenda rutin bidang kependidikan yang diadakan setiap semester, bertujuan untuk menjalin silaturahim antar lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, disamping untuk menimba pengalaman baru dalam hal pengelolaan sistem pendidikan modern.

Kunjungan ini dipimpin oleh Direktur Pendidikan MQ Ust. Ghufron Hasan, dan diikuti oleh seluruh pimpinan unit kependidikan MQ. Turut serta dalam kunjungan ini ketua Yayasan MQ  Ust. Sholihin Hadziq dan bendahara yayasan Bapak Abud Haris.Tim dari MQ ini diterima langsung oleh Pengasuh Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, juga beberapa guru senior dan pengurus yayasan. Dalam pengantarnya KH. Rodja mengapresiasi kunjungan ini dan diharapkan dapat memperkuat barisan perjuangan umat Islam dalam bidang pendidikan. Lebih lanjut beliau mengatakan, bahwa prinsip terpenting dalam pendidikan itu adalah niat untuk menolong agama Allah. Niat yang kuat akan melahirkan keyakinan dan pantang ragu dalam perjuangan. Jika kita sudah mantap dengan perjuangan ini, maka pertolongan Allah akan datang dengan sendirinya dan melalui cara yang tidak disangka-sangka.

Melalui kunjungan ini, diharapkan pendidikan di MQ semakin kaya nuansa program yang beragam dan dapat meningkatkan pelayanan kependidikan pada santri-santrinya. Semoga terus maju.#GeHa.

BERSIH-BERSIH MQ DENGAN GPS

BERSIH-BERSIH MQ DENGAN GPS

Depok, MQ-News. Menanamkan budaya bersih banyak caranya. MQ terus berupaya untuk menjadi pesantren yang bersih dan nyaman bagi penghuninya melalui berbagai kegiatan kebersihan.  Di antaranya melalui GPS,  yaitu gerakan pungut sampah. Gerakan yang dipimpin oleh Ust.  M.  Ghufron ini sejatinya dibentuk untuk menanamkan kesadaran bagi setiap penghuni pesantren untuk membiasakan diri memungut sampah di manapun  dan kapan pun,  kemudian membuangnya di tempat sampah.

GPS ini merupakan aksi sosial yang dimulai dari aksi personal. Setiap orang, mulai dari pengasuh, guru, karyawan, sampai santri,  wajib memungut sampah dan saling mengingatkan dalam hal menjaga kebersihan. Demikian pesan Ketua Yayasan MQ,  Ustad Sholihien Hadziq, saat membuka secara resmi kegiatan GPS ini pada Selasa 2 Oktober 2018 lalu.

Dan yang terpenting, lanjut beliau, kegiatan ini harus menjadi budaya kolektif yang kita anut,  sehingga MQ benar-benar menjadi pesantren yang asri dan nyaman bagi siapa pun. #Semoga lebih baik. GeHa.